Perjalanan cinta bagaikan aliran darah yang takhenti-hentinya menyebarkan energi ke dalam jiwa yang haus akan nikmatnya kasih sayang. Kekosongan jiwa seakan sirna akan hadirnya cinta yang selalu memberiharapan akan indahnya kehidupan. Penantian akan hadirnya cinta membuat setiap insan rela berkorban melawan derasnya ombak kepahitan yang setiap saat dapat menerjang sisi manusiawi. Bukankah cinta yang membuat manusia menjadi bodoh dan tak jarang dapat membuat orang menjadi gila, yaitu sikap manusia yang selalu berpikir realistis bahwa cintalah yang mampu membuatnya bahagia. Peperangan batin dalam dua sisi antara realita dan halusinasi yang setiap saat dapat musnah tak berbekas. Lisan seakan kaku untuk mengungkapkan rasa yang penuhi relung hati, tiang-tiang yang menjulang kokoh seakan tak sanggup untuk menopang besarnya rasa yang dinamakan cinta.
Surgacinta yang dijanjikan bagi tiap insan yang mampu menjaga perasaan akankesetiaan menjadi tujuan konkrit yang tak bisa di tepis oleh waktu. Waktu bagaikan sebuah penghalang yang siap menghapus kenangan dan memudarkan sikap egois dalam diri manusia. Raungan hati yang meronta-ronta mengharapkan cinta dapat menjadi miliknya dengan utuh. Biarpun harapan telah hancur berderai,namun manusia yang selalu berpikir radikal selalu siap bagaimanapun kondisi yang sedang ia hadapi.
Apakah sejarah mungkin saja berulang,memutar waktu dimana kebahagian bersama orang-orang tercinta yang tidak mungkin didapat dan dirasakan lagi. Keinginan yang hampa yaitu yang tidak mempunyai poros dan titik yang pasti. Ketika logika tidak mampu meluapkan apa yang hendak disampaikan, maka disinilah hati sebagai pengganti keresahan yang dapat menguraikan setiap permasalahan yang tak tak bisa terselesaikan. Rumitnya hidup yang penuh liku seakan memaksa hati untuk tertunduk akan kerasnya perasaan egois. Namun, cinta bagaikan bara api, walaupun mempunyai sifat membakar tapi sanggup mencairkan hati yang beku.
Sayang itu tumbuh seiring berjalannya waktu, andai saja dunia tau, betapa bahagianya hidup orang-orang yang mempunyai rasa sayang. Kata kata tak sanggup melukiskan isi hati akan nikmatnya cinta kasih yang dirasakan. Saat kesunyian menghujam jantung, saat dingin membalut tubuh, cinta bagaikan sang surya yang memancarkan cahayanya untuk mengakhiri kesepian dan menghapus kedinginan. Keindahan pesona cinta bagaikan fatamorgana yang akan hilang apabila hanya ditanggapi dengankepalsuan, tapi bagaikan pelangi apabila ditanggapi dengan pikiran yang realistis.
Ketika orang tercinta jauh dimata maka katakanlah ‘aku melihatmu dengan hatiku, bukan dengan mataku’. Dan untuk memberi kekuatan pada hatimu yang gundah maka katakanlah ‘Aku akan mencintaimu sampai si BISU berbicara kepada si Tuli bahwa si BUTA melihat si LUMPUH berjalan’. Perputaran waktu tak mampu mengikis rasa di hati yang di penuhi dengan kesetiaan akan datangnya satu hari penghabisan akan penantian, hari dimana cahaya berada dalam rangkulan hangat insan tersayang.
Apakah sejarah mungkin saja berulang,memutar waktu dimana kebahagian bersama orang-orang tercinta yang tidak mungkin didapat dan dirasakan lagi. Keinginan yang hampa yaitu yang tidak mempunyai poros dan titik yang pasti. Ketika logika tidak mampu meluapkan apa yang hendak disampaikan, maka disinilah hati sebagai pengganti keresahan yang dapat menguraikan setiap permasalahan yang tak tak bisa terselesaikan. Rumitnya hidup yang penuh liku seakan memaksa hati untuk tertunduk akan kerasnya perasaan egois. Namun, cinta bagaikan bara api, walaupun mempunyai sifat membakar tapi sanggup mencairkan hati yang beku.
Sayang itu tumbuh seiring berjalannya waktu, andai saja dunia tau, betapa bahagianya hidup orang-orang yang mempunyai rasa sayang. Kata kata tak sanggup melukiskan isi hati akan nikmatnya cinta kasih yang dirasakan. Saat kesunyian menghujam jantung, saat dingin membalut tubuh, cinta bagaikan sang surya yang memancarkan cahayanya untuk mengakhiri kesepian dan menghapus kedinginan. Keindahan pesona cinta bagaikan fatamorgana yang akan hilang apabila hanya ditanggapi dengankepalsuan, tapi bagaikan pelangi apabila ditanggapi dengan pikiran yang realistis.
Ketika orang tercinta jauh dimata maka katakanlah ‘aku melihatmu dengan hatiku, bukan dengan mataku’. Dan untuk memberi kekuatan pada hatimu yang gundah maka katakanlah ‘Aku akan mencintaimu sampai si BISU berbicara kepada si Tuli bahwa si BUTA melihat si LUMPUH berjalan’. Perputaran waktu tak mampu mengikis rasa di hati yang di penuhi dengan kesetiaan akan datangnya satu hari penghabisan akan penantian, hari dimana cahaya berada dalam rangkulan hangat insan tersayang.







0 komentar:
Posting Komentar